PEDULI PENINGKATAN KUALITAS BIDAN

PEDULI PENINGKATAN KUALITAS BIDAN

Sebagai salah satu negara yang turut meratifikasi kesepakatan MDG’s, Indonesia terikat dan bertanggung jawab untuk mewujudkan seluruh isi kesepakatannya. Lebih dari itu nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Milenium Development Goals (MDG’s) merupakan arah pembangunan global dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan yaitu pembangunan terencana di segala bidang untuk menciptakan perbandingan ideal antara perkembangan kependudukan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta kebutuhan generasi sekarang tanpa harus mengurangi kemampuan dan kebutuhan generasi mendatang.
Walaupun dalam MDG’s isu pertumbuan penduduk, keluarga berencana dan kesehatan reprodusi tidak disebutkan secara eksplisit, namun banyak studi membuktikan bahwa MDG’s tidak mungkin dicapai jika persoalan dasar kependuduan tidak ditangani dengan baik.
Upaya pengentasan kemiskinan dan penghapusan kelaparan tidak dapat dicapai jika masalah kependudukan dan kesehatan reproduksi tidak ditangani dengan baik. Hal ini berarti diperlukan upaya yang keras untuk meningkatkan hak asasi perempuan, investasi pendidikan dan keluarga berencana.
Menjawab tantangan Era Global, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) segera menyingsingkan lengan baju. menyiagakan anggotanya dengan mengggelar seminar di wilayah bina masing-masing.
Di Jawa Tengah, IBI Jateng menggelar seminar dengan tema “Kesiapan Bidan Menghadapi Era Global melalui Program Bidan Delima” , diselenggarakan tanggal 19 Mei 2004 di kota Semarang, Jawa Tengah. Wakil Ketua I Yayasan Damandiri Prof DR Haryono Suyono selaku pembicara mengangkat topik “ Pelayanan KB Mandiri untuk bidan praktek swasta”.
Pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jawa Tengah Hj Gunarmi Hadi mengungkapkan, berdasarkan komitmen global ICPD 2005 untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) maka perlu ditingkatkan standar dalam menjaga mutu serta kepuasan yang mengacu pada semua persyaratan kwalitas pelayanan dan peralatan kesehatan, agar dapat memenuhi keinginan masyarakat.
Bidan praktek swasta yang mampu memberikan pelayanan berkualitas dalam bidang KB dan kesehatan Reproduksi, bersahabat dan peduli terhadap kepentingan pelanggan serta memenuhi dan bahkan melebihi harapan pelanggan, dinamakan Bidan Delima. “Sejumlah persyaratan untuk mencapai Bidan Delima bukanlah hal yang mudah untuk dicapai seorang bidan praktek swasta di daerah pedalaman, khususnya karesidenan Semarang yang begitu luas,” kata Hj Gunarmi Hadi.
Belum lagi menghadapi era globalisasi saat ini yang semakin membuat persaingan sangat ketat dalam segala hal. Itu sebabnya, lanjut Hj Gunarmi Hadi, sangatlah tepat Yayasan Damandiri yang bekerja sama dengan Yayasan INDRA, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan BPR Nusamba menawarkan Program Pemberdayaan Keluarga melalui Penyaluran Kredit Bidan Mandiri,” paparnya.
Program ini adalah suatu upaya dan kegiatan pembinaan yang disertai dengan penyediaan kredit modal kerja berupa obat-obat bebas maupun obat-obat kontrasepsi yang ditujukan kepada Bidan praktek swasta sehingga mampu memberikan pelayanan KB mandiri, terutama pada keluarga yang relatif kurang mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan khususnya kebutuhan obat-obat dan alat kontrasepsi.
Sejumlah peserta menyambut hangat upaya Yayasan Damandiri tersebut. “Diadakannya kredit bergulir kepada para bidan di sini, tentunya sangat membantu profesi bidan yang berada di sekitar kota maupun di desa, yang sekarang memang sangat membutuhkan modal kerja untuk kelangsungan dan kesejahteraan pelayanan bidan desa,” ujar salah satu peserta seminar.
Di Jawa Timur Ikatan Bidan Indonesia Cabang Jawa Timur bekerjasama dengan UNAIR menggelar seminar untuk memasyarakatkan Gerakan Bidan Sejahtera yang mandiri.
Wakil Ketua I Yayasan Damandiri yang mantan Menko Kesra ini mengingatkan bahwa dari 70.000 bidan yang sudah mulai bergabung dengan posyandu dan Polindes di desa-desa, sekarang tinggal 22.000. Sementara yang lainnya setelah kawin dan alasan lainnya telah beralih profesi. Ada yang menjadi istri kepala desa, istri camat, istri pedagang, sehingga melupakan ilmu kebidanan dan pertolongan untuk ibu hamil dan melahirkan.“Apabila kita ingin bidang kesehatan dan KB maju, pelayanan ibu sehat ini harus tetap dijadikan profesi kapanpun dimanapun kita berada,” tegas Prof. Haryono Suyono.
Ironisnya, pelayanan pemerintah berupa obat-obatan dan alat kontrasepsi mulai tahun 2004 hanya antara 20 – 30 %. Artinya, antara 70 –80 % harus dilayani masyarakat sendiri atau swasta. Oleh karena itu, perlu dilakukan advokasi agar bidan dengan kerjasama tim dokter dan akademisi pendidikan dapat meningkatkan mutu bidan sehingga kesehatan ibu dan anak dapat dideteksi secara dini. Kalau bidan tidak bisa melayani di tempat praktek atau di posyandu atau di polindes dapat diteruskan kepada para dokter.
Menurut Prof Haryono seiring perkembangan era teknologi dan globalisasi saat ini, peran bidan menjadi ujung tombak kelangsungan hidup matinya seorang anak manusia yang lahir ke dunia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa 66% persalinan, 93% kunjungan antenatal dan 80 % dari pelayanan keluarga berencana dilakukan oleh bidan.
Bidan sangat berperan dalam pencapaian 53 % prevalensi pemakaian kontrasepsi. Apalagi, 58% pelayanan kontrasepsi suntik dilakukan oleh bidan praktek swasta dan 25% pemakai kontrasepsi Pil, IUD dan implant dilayani oleh bidan praktek swasta.
Disisi lain, sukses yang telah diraih selama ini menimbulkan tantangan baru bersama dengan kemajuan pembangunan di tanah air. Kesejahteraan yang semakin meningkat disertai dengan tingkat pendidikan masyarakat akan menimbulkan tuntutan kualitas pelayanan.
Dalam upaya peningkatan kualitas bidan serta peningkatan mutu pelayanan utamanya bagi keluarga kurang mampu Yayasan Damandiri bekerjasama dengan mitra kerja seperti kalangan perbankkan, Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Yayasan Indra dan organisasi kemasyarskatan dalam hal ini Ikatan Bidan Indonesia berusaha membantu dengan mengembangkan Gerakan Bidan Sejahtera yang mandiri. Gerakan ini memerlukan pelayanan dengan tempat dan peralatan memadai. “Untuk itu, melalui bank-bank setempat, misalnya Bank BPD atau Bank Bukopin telah disepakati untuk memberikan pelayanan kredit dengan prosedur komersial yang disederhanakan,” jelas Haryono
Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sebagai organisasi profesi yang sangat peduli pada anggotanya serta sensitif pada masalah kesehatan yang ada di negara ini senantiasa memperhatikan tingkat profesionalisme para bidan. Berbagai upaya telah dilakukan IBI dengan melakukan kegiatan yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggota dalam pemberian pelayanan serta kelengkapan sarana sesuai standar.
Dengan kekuatan organisasi pada setiap jenjang kepengurusan, hampir setiap cabang IBI telah mempunyai kantor sekretariat tempat melakukan aktifitas yang merupakan center pembinaan anggota, bahkan juga tempat pelayanan milik organisasi sebagai tempat meningkatkan ketrampilan anggota melalui program magang dan sekaligus merupakan tempat usaha yang berbadan hukum dengan nama Yayasan Buah Delima.
Melalui kegiatan yayasan ini, IBI melengkapi kebutuhan para bidan baik berupa sarana pelayanan termasuk obat dan alat kontrasepsi maupun berupa dana untuk meningkatkan tempat pelayanan.
Di sela kesibukan menempuh pendidikan formal tingkat akademi yang merupakan standar minimal pendidikan bidan atau lebih atas lagi, para pengurus masih menyempatkan melakukan pembinaan di setiap tingkat kepengurusan.
Di tingkat provinsi diberikan kepada pengurus cabang dengan muatan kebijakan-kebijakan organisasi, pengembangan pengetahuan baru yang akan diteruskan kepada anggota di tingkat cabang dan ranting sebagai upaya pemberdayaan pengurus.
IBI Provinsi Jawa Timur, boleh berbangga hati karena pihak rektorat Universitas Airlangga bakal menyediakan peluang bagi bidan di Jatim untuk mengembangkan pengetahuan akademinya hingga jenjang S1 di kampus Unair. “Kemungkinan besar, bidan-bidan yang beruntung nanti akan mendapat korting SPP-nya dari Unair, “ cetus Prof Dr H Haryono Suyono Guru Besar Universitas Airlangga, saat berbicara dalam seminar Peningkatan Kualitas Bidan di kampus Unair dalam rangka memperingati 50 Tahun Unair, yang terselenggara atas kerjasama Ikatan Bidan Indonesia (IBI) provinsi Jawa Timur dengan Universitas Airlangga, Jawa Timur.
Ucapan Wakil Ketua I Yayasan Damandiri cukup beralasan, karena sebelumnya telah dilakukan pendekatan dengan banyak pihak, khususnya pihak rektorat. Dengan kata lain, Universitas Airlangga memang telah siap mengangkat para bidan se Jatim menjadi sarjana melalui program S1-nya. Seminar tersebut dihadiri Pembantu Rektor I Unair, Prof Dr Fasikhul Ihsan, Sukaemi Sukir, SPd, – Ketua IBI provinsi Jatim dan Prof Muhammad Amin – Direktur Program Pascasarjana Unair. Selain itu jajaran pengurus IBI se Jatim memenuhi auditorium Fakultas Kedokteran UNAIR.
Ketua IBI Jatim Sukaemi Sukir, Spd berkata selain mengupayakan para bidan yang tergabung dalam IBI memperoleh tingkat pendidikan memadai, IBI juga melakukan kegiatan berupa seminar pendidikan berkelanjutan, pelatihan-pelatihan berbasis kompetensi (menggunakan standar WHO) yang telah dan sedang dilaksanakan di 75 % cabang, bahkan ada 4 kabupaten yang 100 % bidannya telah dilatih APN. Untuk mempertahankan kinerja pelayanan sesuai standar, IBI pun mempunyai program Peer Review yang sedang dan telah dilaksanakan di cabang cabang.
Mengantisipasi penerapan sistem legislasi dan lisensi oleh pemerintah melalui proses penilaian dan pemantauan terhadap pelayanan bidan, maka IBI bekerjasama dengan STARH, BKKBN dan Dep.Kes telah memulai program peningkatan kualitas pelayanan yang sesuai dengan standar kesehatan WHO. Program ini dutujukan kepada semua bidan praktek swasta dan dinamakan Bidan Delima, suatu merk dagang yang punya standar sudah ditentukan dan mempunyai keunggulan, kekhususan berkualitas tinggi, mempunyai nilai tambah, lengkap dan memiliki hak paten.
Wakil Ketua I Yayasan Damandiri mengingatkan di era Otonomi Daerah, perlu dikembangkan strategi pemberdayaan yang mandiri untuk meningkatkan mutu keluarga, perempuan, anak-anak dan remaja di dalam proses pemberdayaan ibu sehat, keluarga sehat, keluarga yang beruntung, bekerja dan membangun.
“Strategi ini bukan sekedar wacana, tetapi pada perubahan tingkah laku,” tegas Prof Haryono seraya menambahkan, “strategi yang perlu kita segarkan kembali adalah komitmen yang tinggi melindungi ibu-ibu dan anak-anak pemegang masa depan bangsa. Targetnya adalah dengan mengukur makin tingginya mutu punduduk Indonesia atas dasar human development index.”
Pascasarjana Unair saat ini sedang menyiapkan suatu jaringan di sepuluh kota dan kabupaten sebagai payung proyek pertama, termasuk Surabaya, Malang dan sekitarnya. Untuk meningkatkan mutu dan jaminan para bidan ini akan dilakukan pertemuan sekitar dua atau tiga bulan sekali.
Diharapkan, akan ada kerjasama dengan bank pembangunan daerah agar para bidan dapat menjadi anggota dan penerima kartu bidan mandiri, sehingga para bidan mudah menerima kartu kredit dari bank Jawa Timur untuk menolong para akseptor yang mungkin tidak bisa membayar kontan harga obat suntikan. “Obat suntikan 3 bulan dipakai sekali kalau bayar 3 bulan hanya pada waktu disuntik itu mahal, bisa dicicil seminggu sekali atau sebulan sekali, “ saran Prof. Haryono Suyono didepan `peserta forum seminar yang saat itu hadir pula beberapa pengurus BPD Jatim.
Usulan lainnya, akan ada pelatihan bidan junior secara tersendiri. “Kalau dalam dua tahun sekali, bidan delima mengambil bidan senior, maka bidan junior akan kita latih juga. Sehingga ada semacam kerjasama yang erat, yang intinya adalah memberikan kesempatan sebanyak mungkin agar pasangan ibu yang ada dapat dibantu.
Oleh karena itu sejalan dengan penyediaan pelayanan yang disediakan Bank Jatim, Yayasan Damandiri menyediakan kontrasepsi mandiri. Dijadwalkan di setiap desa minimal ada 1 bidan mandiri.”
Seminar yang dihadiri 230 pengurus IBI se-Jawa Timur dan Badan Pusat statistik (BPS) dari 15 cabang ini diharapkan dapat menambah pengayaan dari kegiatan dan program yang telah ada, sehingga memperkuat kemandirian dalam langkah serta pemberian pelayanan kepada masyarakat.

DIKUTIP DARI : WWW.DAMANDIRI.OR.ID

ARTI KEBIDANAN DALAM ARTI LUAS

ARTI KEBIDANAN DALAM ARTI LUAS

Apakah Yang Dimaksud dengan Kebidanan?

Kebidanan adalah bagian integral dari sistim kesehatan dan berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut pendidikan, praktek dan kode etik bidan dimana dalam memberikan pelayanannya mengyakini bahwa kehamilan dan persalinan adalah suatu proses fisiologi normal dan bukan merupakan penyakit, walaupun pada beberapa kasus mungkin berkomplikasi sejak awal karena kondisi tertentu atau komplikasi bisa timbul kemudian. Fungsi kebidanan adalah untuk memastikan kesejahteraan ibu dan janin / bayinya, bermitra dengan perempuan, menghormati martabat dan memberdayakan segala potensi yang ada padanya.

Apakah Yang Dimaksud dengan Praktek Kebidanan ?

Praktek Kebidanan adalah asuhan yang diberikan oleh bidan secara mandiri baik pada perempuan yang menyangkut proses reproduksi, kesejahteraan ibu dan janin / bayinya, masa antara dalam lingkup praktek kebidanan juga termasuk pendidikan kesehatan dalam hal proses reproduksi untuk keluarga dan komunitasnya.
Praktek kebidanan berdasarkan prinsip kemitraan dengan perempuan, bersifat holistik dan menyatukannya dengan pemahaman akan pengaruh sosial, emosional, budaya, spiritual, psikologi dan fisik dari pengalaman reproduksinya.
Praktek kebidanan bertujuan menurunkan / menekan mortalitas dan morbilitas ibu dan bayi yang berdasarkan ilmu-ilmu kebidanan, kesehatan, medis dan sosial untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan ibu dan janin / bayinya.

Apakah yang Dimaksud dengan Asuhan Kebidanan ?

Asuhan Kebidanan: Adalah prosedur tindakan yang dilakukankan oleh bidan sesuai dengan wewenang dalam lingkup prakteknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan, dengan memperhatikan pengaruh – pengaruh sosial, budaya, psikologis, emosional, spiritual, fisik, etika dan kode etik serta hubungan interpersonal dan hak dalam mengambil keputusan dengan prinsip kemitraan dengan perempuan dan mengutamakan keamanan ibu, janin / bayi dan penolong serta kepuasan perempuan dan keluarganya. Asuhan kebidanan diberikan dengan mempraktikan prinsip-prinsip bela rasa, kompetensi, suara hati, saling percaya dan komitment untuk memelihara serta meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin / bayinya.

AKADEMI KEBIDANAN PETRO MANDAU HUSADA DURI TEMPAT MENDIDIK DAN MELAHIRKAN BIDAN-BIDAN YANG AHLI DIBIDANGNYA

AKADEMI KEBIDANAN PETRO MANDAU HUSADA JUGA BERGABUNG DALAM WADAH IKATAN BIDAN INDONESIA (IBI) RANTING DURI.

DATANG DAN BERGABUNGLAH DI AKBID PMH DURI UNTUK MEWUJUDKAN CITA-CITA ANDA.

PETRO MANDAU HUSADA

Akbid PMH atau Petro Mandau Husada Di mata para mahasiswa Angkatan -1nya

Oleh : Mahasiswa Akbid PMH duri T.A. 2007- 2008

Akbid PMH adalah sebuah terobosan baru untuk menjadi seorang bidan yang profesional, tangguh, handal, cekatan & pintar. Selain Izin Operasional yang resmi dan di akui, kita tidak usah merasa takut untuk datang dan bergabung disini. Walaupun terbilang muda, tetapi Akbid PMH adalah Akbid yang dapat dipercaya & di selalu berjalan sesuai dengan Kurikulum yang disediakan Untuk Program D-III Kebidanan, Bahkan setelah tamatpun kita tidak hanya mendapatkan Ijazah saja tetapi kita akan mendapat SIB (surat Izin Bidan) sehingga tidak usah susah payah lagi mengurusnya sendiri, karna SIB itu akan diurus dengan sendirinya oileh pihak Yayasan guna mempermudah para alumninya. Dengan berbekalkan Ijazah &SIB kita tidak hanya dapat menggantungkan nasib kita pada Instansi pemerintahan, tetapi kita dapat berdiri sendiri dengan membuka praktek klinik bersalin.

Didalam proses pembelajaran, metode yang digunakan juga asik, kita tidak hanya mencatat, tetapi kita dapat berdiskusi, kedisiplinan juga sangat dituntut, karena kita harus tanggap dalam berbagai masalah kelak yang bakal kita hadapi selama dilapangan.

Selain Dosen-dosen yang pintar, ramah, baik hati, kita juga sangat-sangat dibimbing dalam belajar praktek, baik menyuntik, pemeriksaan ibu hamil, persalinan dan banyak lagi yang lainnya.

Kami juga sudah pernah mengikuti “Study Banding yang kami laksanakan dI Langkat (SUMUT)” tapi tak sedikitpun kami dipungut biaya. Kami senang selain transparan, pihak yayasan tidak memungut uang lagi selain uang yang wajib kita bayar pada setiap semesternya.

Maklum saat ini Biaya semua serba mahal, apalagi semenjak naiknya harga BBM, jadi kami juga kasihan kepada Orang tua kami andai kata banyak pungutan uang-uang yang dikutip tanpa pemberitahuan yang sah.

Disini kami merasa sangat nyaman, disamping ruang perkuliahan yang nyaman, sejuk, laboratorium yang lengkap, taman yang asri, teman-teman yang bersahabat. Jika kamu ingin menjadi seperti kami segera aja bergabung disini, ya di Akbid PMH Duri Jln. Jend. Sudirman No. 246 atau untuk informasi silahkan hubungi di 08286541238.

KAMI TUNGGU KEDATANGAN ADIK-ADIK BARU KAMI DI KAMPUS AKBID PMH DURI

SALAM

Yolla, Sizka, Adek (Refi), Via, Ayu, Ida, Suu

Memaknai 100 Tahun Kebangkitan Bangsa

http://ksemar.wordpress.com

HAK DAN KEWAJIBAN
SERTA MEMUDARNYA NASIONALISME

Oleh : Togar Lubis

Banyak pihak khususnya para “Pejabat” yang menuding bahwa saat ini rasa kecintaan terhadap Negara (Nasionalisme) rakyat Indonesia telah mulai memudar. Mungkin tudingan tersebut benar, terbukti dengan munculnya keinginan sejumlah daerah untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sialnya, yang paling sering mereka tuding adalah kelompok masyarakat Non Goverment Organisation (NGO) atau para aktivis yang kerap berteriak lantang tentang hak rakyat. Lalu, Benarkah rasa nasionalisme rakyat di negeri ini mulai memudar ?.

Andaikan memang demikian maka perlu sebuah kajian yang lebih mendalam dan objektif, sehingga kita mengetahui mengapa dan apa penyebab hal ini terjadi. Kita tidak bisa selamanya terus mendoktrin rakyat dengan kalimat “Jangan tanya apa yang dapat diberikan Negara kepadamu, tapi tanyalah apa yang dapat kamu berikan pada Negara”. Slogan itu dirasa sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman, klasik, bahkan terkesan membodoh-bodohi rakyat.

Rakyat Indonesia khususnya masyarakat miskin sudah muak dengan ucapan para pejabat dan elit politik. Wajar, sebab kenyataannya orang miskin disanjung dan dikunjung serta dibutuhkan para pejabat dan elit hanya pada saat menjelang Pilkada dan Pemilu.
Para pejabat khususnya di daerah terus menciptakan segala bentuk peraturan yang disertai dengan sanksi untuk menggali pendapatan. Anehnya, para pejabat ini sama sekali sudah tidak menghiraukan criteria atau syarat membuat peraturan daerah (perda) sehingga perda tersebut sering bertentangan dengan Undang-undang atau peraturan yang lebih tinggi.

Kepala Pusat Evaluasi Pajak dan Retribusi Depkeu Tjip Ismail pertengahan 2005 lalu menyebutkan, terdapat sekitar 120 perda mengenai pajak dan 450 perda mengenai retribusi yang diterbitkan oleh 30 pemerintah provinsi di seluruh Indonesia. Selain itu, terdapat 2.590 perda tentang pajak dan 10.360 perda tentang retribusi yang dibuat oleh 370 kabupaten dan kota di Indonesia.
“Rata-rata terdapat empat perda perpajakan dan 15 perda retribusi yang diterbitkan oleh satu provinsi, sementara untuk masing-masing kabupaten dan kota rata-rata terdapat tujuh perda pajak dan 28 perda retribusi yang disusun. Dengan demikian, seharusnya ada 13.520 perda yang sudah diterbitkan oleh daerah,” kata Tjip saat itu. Dari jumlah perda tersebut hingga tanggal 28 April 2005, tim Depkeu sudah merekomendasikan 448 pembatalan perda. Rekomendasi itu antara lain terdiri atas perda-perda di bidang perindustrian dan perdagangan, perhubungan, tenaga kerja, pertanian dan peternakan, perkebunan, serta lingkungan hidup.

Disatu sisi rakyat sebagai objek peraturan tersebut terus dihimbau agar selalu taat memenuhi kewajibannya. Sementara disisi lain, hak-hak rakyat diabaikan, dikebiri bahkan diselewengkan. Terungkapnya sejumlah kasus korupsi yang dilakukan pejabat di tingkat pusat maupun daerah juga menjadi factor penyebab rakyat semakin apatis dan bersikap dingin menyikapi segala persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini.
Hal lain yang menjadi penyebab memudarnya rasa Nasionalisme adalah tidak adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Rakyat diharuskan memenuhi kewajiban, namun haknya tidak diberikan sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan. Lamban laun rakyat merasa hanya sebagai “sapi perah” yang terus menjadi objek kepentingan pihak lain dan mulai mengekpresikan diri dengan cara bersikap apatis terhadap segala himbauan pemerintah.

Contoh nyata bentuk kejengkelan rakyat tersebut jelas terlihat saat dilangsungkannya Pemilu dan Pilkada, mereka tidak lagi menggunakan hak pilihnya. Apalagi rakyat mengetahui bahwa hanya hak tersebut yang mereka miliki dan diberikan pejabat dan elit politik tanpa harus mengalami potongan disana sini. Bahkan untuk memberikan hak rakyat yang satu ini, banyak elit politik yang terus berkunjung dan bahkan terlalu menyanjung rakyat demi mendapatkan sebuah legitimasi. Sikap yang diambil rakyat ini adalah salah satu cara yang dirasa paling aman, sebab tidak menimbulkan pergesekan terhadap pihak penguasa dan berakhir di penjara.

Namun, adakah yang dapat menjamin bahwa kejenuhan rakyat ini lamban laun tidak akan mengkristal menjadi sebuah pergolakan yang akhirnya menimbulkan “disintegrasi” bangsa dan mengganggu keutuhan NKRI. Wallahua’lam. Salam.

* Penulis adalah Koordinator Kelompok Studi dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR) Sumatera Utara

AKADEMI KEBIDANAN PETRO MANDAU HUSADA

Sebuah instansi pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan bidan-bidan yang handal dan tangguh dibidangnya, menjawab tantangan kesehatan akan kesehatan yang optimal menuju Indonesia Sehat Tahun 2010, sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Dengan terciptanya para bidan yang cerdas, terampil dan handal maka angka kematian ibu dan bayi di Indonesia akan menurun secara derastisnya.

Bidan sudah semestinya ahli dan trampil dalam memberikan pertolongan persalinan, oleh karena itu di Akbid Petro Mandau Husada, kami lebih mengutamakan praktek dari pada teori. sehingga apabila para siswa melaksanakan praktek ke rumah sakit, maka mereka tidak akan mengecewakan pihak rumah sakit ataupun pendidikan, karena itu sebelum kami melaksanakan praktewk lapangan, terlebih dahulu kami menyiapkan mahasiswa kami untuk semua tindakan praktek yang akan dilaksanakan dirumah sakit tersebut, baik menyuntik, memasang infus, menolong persalinan, pemereiksaan hamil dan lain sebagainya. Insya Allah Angkatan pertama yang kami didik sudah mampu dan trampil melakukan semua tindakan tersebut diatas.

Dengan ini kami mengajak dan menghimbau calon mahasiswa baru Akbid Petro Mandau Husada Angkatan Ke II T.A. 2008 – 2009  untuk segera mendaftarkan diri dan bergabung bersama kami.

Untuk Informasi lebih lengkap hubungi kami di 08286541238 or http://petromandauhusada.com

Kami tunggu kedatangan para calon mahasiswa baru untuk didik dan di binamenjadi Bidan Yang Profesional