SEPUTAR PERJALANAN MENJADI SEORANG BIDAN DAN MEMBERIKAN PERTOLONGAN KEPADA MASYARAKAT

SEPUTAR PERJALANAN MENJADI SEORANG BIDAN DAN MEMBERIKAN PERTOLONGAN KEPADA MASYARAKAT

OLEH : DELIMAYANI, SST

Menjadi seorang bidan terkadang bisa dikatakan gampang-gampang susah, selain ilmu yang harus benar-benar dimiliki, juga harus memiliki keterampilan khusus dalam bidang menolong dan memberikan asuhan kebidanan sesuai dengan kebutuhan dari pasien tersebut. Pengembangan karir merupakan kondisi yang menunjukkan adanya peningkatan jenjang jabatan dan jenjang pangkat bagi seorang pegawai negri pada suatu organisasi dalam jalur karir yang telah ditetapkan dalam organisasinya.Pengembangan karir bidan meliputi karir fungsional dan karir struktural. Pada saat ini pengembangan karir bidan secara fungsional telah disiapkan dengan jabatan fungsional bagi bidan,serta melalui pendidikan berkelanjutan baik secara formal maupun non formal yang hasil akhirnya akan meningkatkan kemampuan profesional bidan dalam melaksanakan fungsinya.Fungsi bidan nantinya dapat sebagai pelaksana,pendidik,peneliti, bidan koordinator dan bidan penyelia.

Sedangkan karir bidan dalam jabatan struktural tergantung dimana bidan bertugas apakah dirumah sakit,puskesmas,bidan didesa atau instansi swasta.Karir tersebut dapat dicapai oleh bidan ditiap tatanan pelayanan kebidanan/kesehatan sesuai

dengan tingkat kemampuan ,kesempatan,dan kebijakan yang ada.

Untuk menjadikan diri anda seperti bidan-bidan yang lain, segera datang bergabung bersama kami untuk mewujudkan cita-cita yang mulai dalam menolong orang lain.

AKADEMI KEBIDANAN PETRO MANDAU HUSADA

JLN . JEND. SUDIRMAN NO. 246 SAMPING GANG. HORAS

TELP. 08286541238

PETRO MANDAU HUSADA DURI

KEBIDANAN MENYONGSONG iNDONESIA SEHAT 2010

Adalah sebuah terobosan baru di dunia kesehatan untuk menciptakan Indonesia Sehat 2010, bukan hanya sehat jasmani, juga sehat rohaniah. Indonesia adalah sebuah Negera yang makmur dan padat penduduk. Akan tetapi masih banyaknya ditemukan jumlah angka kematian ibu dan bayi. Untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi saat persalinan, maka kita harus menciptakan bidan-bidan yang handal dalam memberikan dan menolong persalinan, baik dikota ataupun didesa.

Menjadi bidan yang handal bukanLah hal yang susah, seorang bidan harus mampu memiliki keterampIlan dan memiliki kepandaian yang dapat digunakan dalam memberikan pelayanan kepada klien (pasien).

Untuk menjadi bidan yang handal dibidangnya, mari bergabung bersama kami di :

” AKADEMI KEBIDANAN PETRO MANDAU HUSADA DURI”

Jl. Sudirman No. 246 Duri.

Telp. 08286541238 or http://petromandauhusada.wordpress.com

AKADEMI KEBIDANAN PETRO MANDAU HUSADA DIMATA PARA MAHASISWA

AKADEMI KEBIDANAN PETRO MANDAU HUSADA DIMATA PARA MAHASISWA

(NEW EDITION)

OLEH : MAHASISWA AKBID PMH ANGKATAN - 1

Akademi Kebidanan Petro Mandau Husada (PMH) adalah salah satu tempat untuk menuntut ilmu di bidang kesehatan khusus pendididkan Bidan Diploma III. Kita tidak perlu ragu dengan kwalitas dan kuantitas Akbid Petro Mandau Husada ini, karena pada dasarnya Akbid PMH ini telah memilki Izin yang resmi untuk beroprasinal dan menjadikan kita bidan-bidan yang professional di bidangnya.

Akbid PMH adalah pilihan yang tepat untuk menuntut ilmu selain tempatnya yang strategis dan mudah dijangkau, ruang belajar yang nyamandan dilengkapi dengan fasilitas yang dibutuhkan dalam proses belajar. Tim pengajar yang baik dan bersahabat, baik dosen dalam maupun dosen yang sengaja di datangkan dari luar, seperti Mr. G (Gusman yuhardi), Dr. Dedek, Dr. Novi dll.

Jadwal perkuliahan yang berjalan sesuai dengan Kalender pendidikan yang dibuat dalam 1 semester sesingga kita dituntut untuk belajar dengan serius, Dalam proses belajar yang pernah kami alami semuanya sangat mengasikkan, kami dapat berinteraksi satu dengan yang lainnya, karena dalam proses belajar kita di tuntut untuk aktif, belajar jadi menyenangkan tidak hanya mencatat terus menerus, bahan yang diberikan dosen dapat kita simpan dalam flashdish, pokoknya canggih habis dech…..

Jadi tunggu apalagi, Anda mau menjadi bidan professional yang siap menantang perkembangan dunia???? Maka begeraslah daftarkan diri anda sekarang juga ke “ Akademi Kebidanan Petro Mandau Husada Duri – Riau”

“ AKADEMI KEBIDANAN PETRO MANDAU HUSADA DURI – RIAU”

Jln. Jendral sudirman No. 246 Duri, Kec. Mandau Kab. Bengkalis

Hotline di : 08286541238

Refi (Adek), Sizka, Via, Ika, Olla, Ida, Suu

KESEHATAN REPRODUKSI DINILAI PENTING UNTUK REMAJA

KESEHATAN REPRODUKSI DINILAI PENTING UNTUK REMAJA

OLEH : MAHASISWA AKBID PETRO MANDAU HUSADA ANGKATAN 1

Seorang pelajar SMP dilaporkan telah mencabuli tujuh balita yang masih tetangganya sendiri. Bunga 18 tahun menagis ketika mengetahui bahwa ia tidak menstruasi selam dua bulan dikarenakan hamil dari tes urin yang positif. Gadis itu bertambah bingung ketika ia harus meminta pertanggungjawaban kepada pemuda yang telah menghamilinya yang sekarang tidak dapat dihubungi lagi.

Kedua kasus diatas adalah sekelumit realita seksualitas yang banyak terjadi di masyarakat kita. Kejadiannya yang seperti gunung es, yang terlihat hanya sebagian namun banyak sekali kasus – kasus yang belum terungkap. Kita memang harus menyadari era globalisasi ini dapat membawa dampak negatif bagi remaja, membawa perubahan pada perilaku seksual pada kaum remaja dan makin maraknya kasus – kasus yang berhubungan dengan perilaku menyimpang seksual pada remaja. Kita harus berusaha untuk mencegah agar tidak makin banyaknya korban kekerasan dalam seksual maupun korban “free sex” di lingkungan masyarakat.

Kasus pertama memberi gambaran kepada kita bahw makin merosotnya moral dikalangan remaja kita. Mereka dengan tidak bertanggunga jawab menggunakan kemajuaqn teknologi internet untuk mengakses film – film dan situs gambar – gambar porno, apalagi sekarang ditambah banyaknya majalah – majalah porno yang dapat dibeli di agen koran dengan mudah. Masa peralihan remaja adalah waktu yang sangat rawan dalam perkembangan jiwa dan jati diri. Jika tidak diawasi dengan seksama dapat dengan mudah terpengaruh lingkungan yang buruk. Moral yang tidak terbentuk dengan baik dapat membuat mereka tidak dapat mengontrol tingkah laku mereka sendiri.

Kasus kedua memberi gambaran kepada kita, makin banyaknya cara berpacaran yang “kebablasan”. Mereka tanpa pikir panjang melakukan hubungan seksual diluar nikah. Mereka tidak menyadari bahwa hubungan seksual yang pertama dapat menyebabkan kehamilan, karena dimungkinkan pada saat itu wanita sedang dalam masa subur. Akibat lainnya adalah kehamilan yang tidak diinginkan yang mendorong mereka untuk melakukan aborsi dengan cara apapun, dari minum obat – obatan, jamu – jamuan dan pergi minta bantuan dukun. Banyak risiko yang terjadi akibat tindakan aborsi yang sembarangan misal oleh dukun seperti endometritis, infeksi genitalia, ca cervix yang paling parah adalah pendarahan yang mengakibatkan yang mengakibatkan kematian. Sebaiknya aborsi dilakukan oleh dokter ahli kandungan dengan tindakan medis yang benar dan steril sehingga dapat menyelamatkan jiwa ibu. Namun, tindakan aborsi itu dilakukan hanya jika terdapat indikasi yang mengancam jiwa ibu, misalnya penyakit dalam kehamilan dan gangguan kejiwaan.

Salah satu aktor penyebabnya adalah minimnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Sehingga banyak remaja yang mencari informasi dengan cara yang salah. Pendidikan seksualitas yang hingga saat ini masih dianggap tabu membuat orang tua maupun sekolah “enggan” untuk menyinggung masalah kesehatan reproduksi remaja ini. Padahal sebenarnya pendidikan kesehatan reproduksi sangat penting untuk diajarkan kepada pelajar SMP, SMA maupun mahasiswa, dilihat makin berubahnya perilaku seksual remaja dari tahun ke tahun. Pendidikan kesehatan reproduksi memberikan pengertian kepada remaja tentang anatomi, isiologi, dan fungsi dari alat reproduksi perempuan dan laki – laki. Kesehatan reproduksi juga menjelaskan tentang perubahan – perubahan seksual primer maupun sekunder pada masa pubertas, perubahan fisik yang menunjukan kekhasan tubuh perempuan dan laki – laki merupakan tanda seksual sekunder pada remaja. Seksual primer ditunjukan dengan berfungsinya alat – alat reproduksi pada perempuan dan laki – laki. Perempuan mengalami menarche dan laki – laki mengalami “mimpi basah”.

PEDULI PENINGKATAN KUALITAS BIDAN

PEDULI PENINGKATAN KUALITAS BIDAN

Sebagai salah satu negara yang turut meratifikasi kesepakatan MDG’s, Indonesia terikat dan bertanggung jawab untuk mewujudkan seluruh isi kesepakatannya. Lebih dari itu nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Milenium Development Goals (MDG’s) merupakan arah pembangunan global dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan yaitu pembangunan terencana di segala bidang untuk menciptakan perbandingan ideal antara perkembangan kependudukan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta kebutuhan generasi sekarang tanpa harus mengurangi kemampuan dan kebutuhan generasi mendatang.
Walaupun dalam MDG’s isu pertumbuan penduduk, keluarga berencana dan kesehatan reprodusi tidak disebutkan secara eksplisit, namun banyak studi membuktikan bahwa MDG’s tidak mungkin dicapai jika persoalan dasar kependuduan tidak ditangani dengan baik.
Upaya pengentasan kemiskinan dan penghapusan kelaparan tidak dapat dicapai jika masalah kependudukan dan kesehatan reproduksi tidak ditangani dengan baik. Hal ini berarti diperlukan upaya yang keras untuk meningkatkan hak asasi perempuan, investasi pendidikan dan keluarga berencana.
Menjawab tantangan Era Global, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) segera menyingsingkan lengan baju. menyiagakan anggotanya dengan mengggelar seminar di wilayah bina masing-masing.
Di Jawa Tengah, IBI Jateng menggelar seminar dengan tema “Kesiapan Bidan Menghadapi Era Global melalui Program Bidan Delima” , diselenggarakan tanggal 19 Mei 2004 di kota Semarang, Jawa Tengah. Wakil Ketua I Yayasan Damandiri Prof DR Haryono Suyono selaku pembicara mengangkat topik “ Pelayanan KB Mandiri untuk bidan praktek swasta”.
Pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jawa Tengah Hj Gunarmi Hadi mengungkapkan, berdasarkan komitmen global ICPD 2005 untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) maka perlu ditingkatkan standar dalam menjaga mutu serta kepuasan yang mengacu pada semua persyaratan kwalitas pelayanan dan peralatan kesehatan, agar dapat memenuhi keinginan masyarakat.
Bidan praktek swasta yang mampu memberikan pelayanan berkualitas dalam bidang KB dan kesehatan Reproduksi, bersahabat dan peduli terhadap kepentingan pelanggan serta memenuhi dan bahkan melebihi harapan pelanggan, dinamakan Bidan Delima. “Sejumlah persyaratan untuk mencapai Bidan Delima bukanlah hal yang mudah untuk dicapai seorang bidan praktek swasta di daerah pedalaman, khususnya karesidenan Semarang yang begitu luas,” kata Hj Gunarmi Hadi.
Belum lagi menghadapi era globalisasi saat ini yang semakin membuat persaingan sangat ketat dalam segala hal. Itu sebabnya, lanjut Hj Gunarmi Hadi, sangatlah tepat Yayasan Damandiri yang bekerja sama dengan Yayasan INDRA, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan BPR Nusamba menawarkan Program Pemberdayaan Keluarga melalui Penyaluran Kredit Bidan Mandiri,” paparnya.
Program ini adalah suatu upaya dan kegiatan pembinaan yang disertai dengan penyediaan kredit modal kerja berupa obat-obat bebas maupun obat-obat kontrasepsi yang ditujukan kepada Bidan praktek swasta sehingga mampu memberikan pelayanan KB mandiri, terutama pada keluarga yang relatif kurang mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan khususnya kebutuhan obat-obat dan alat kontrasepsi.
Sejumlah peserta menyambut hangat upaya Yayasan Damandiri tersebut. “Diadakannya kredit bergulir kepada para bidan di sini, tentunya sangat membantu profesi bidan yang berada di sekitar kota maupun di desa, yang sekarang memang sangat membutuhkan modal kerja untuk kelangsungan dan kesejahteraan pelayanan bidan desa,” ujar salah satu peserta seminar.
Di Jawa Timur Ikatan Bidan Indonesia Cabang Jawa Timur bekerjasama dengan UNAIR menggelar seminar untuk memasyarakatkan Gerakan Bidan Sejahtera yang mandiri.
Wakil Ketua I Yayasan Damandiri yang mantan Menko Kesra ini mengingatkan bahwa dari 70.000 bidan yang sudah mulai bergabung dengan posyandu dan Polindes di desa-desa, sekarang tinggal 22.000. Sementara yang lainnya setelah kawin dan alasan lainnya telah beralih profesi. Ada yang menjadi istri kepala desa, istri camat, istri pedagang, sehingga melupakan ilmu kebidanan dan pertolongan untuk ibu hamil dan melahirkan.“Apabila kita ingin bidang kesehatan dan KB maju, pelayanan ibu sehat ini harus tetap dijadikan profesi kapanpun dimanapun kita berada,” tegas Prof. Haryono Suyono.
Ironisnya, pelayanan pemerintah berupa obat-obatan dan alat kontrasepsi mulai tahun 2004 hanya antara 20 – 30 %. Artinya, antara 70 –80 % harus dilayani masyarakat sendiri atau swasta. Oleh karena itu, perlu dilakukan advokasi agar bidan dengan kerjasama tim dokter dan akademisi pendidikan dapat meningkatkan mutu bidan sehingga kesehatan ibu dan anak dapat dideteksi secara dini. Kalau bidan tidak bisa melayani di tempat praktek atau di posyandu atau di polindes dapat diteruskan kepada para dokter.
Menurut Prof Haryono seiring perkembangan era teknologi dan globalisasi saat ini, peran bidan menjadi ujung tombak kelangsungan hidup matinya seorang anak manusia yang lahir ke dunia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa 66% persalinan, 93% kunjungan antenatal dan 80 % dari pelayanan keluarga berencana dilakukan oleh bidan.
Bidan sangat berperan dalam pencapaian 53 % prevalensi pemakaian kontrasepsi. Apalagi, 58% pelayanan kontrasepsi suntik dilakukan oleh bidan praktek swasta dan 25% pemakai kontrasepsi Pil, IUD dan implant dilayani oleh bidan praktek swasta.
Disisi lain, sukses yang telah diraih selama ini menimbulkan tantangan baru bersama dengan kemajuan pembangunan di tanah air. Kesejahteraan yang semakin meningkat disertai dengan tingkat pendidikan masyarakat akan menimbulkan tuntutan kualitas pelayanan.
Dalam upaya peningkatan kualitas bidan serta peningkatan mutu pelayanan utamanya bagi keluarga kurang mampu Yayasan Damandiri bekerjasama dengan mitra kerja seperti kalangan perbankkan, Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Yayasan Indra dan organisasi kemasyarskatan dalam hal ini Ikatan Bidan Indonesia berusaha membantu dengan mengembangkan Gerakan Bidan Sejahtera yang mandiri. Gerakan ini memerlukan pelayanan dengan tempat dan peralatan memadai. “Untuk itu, melalui bank-bank setempat, misalnya Bank BPD atau Bank Bukopin telah disepakati untuk memberikan pelayanan kredit dengan prosedur komersial yang disederhanakan,” jelas Haryono
Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sebagai organisasi profesi yang sangat peduli pada anggotanya serta sensitif pada masalah kesehatan yang ada di negara ini senantiasa memperhatikan tingkat profesionalisme para bidan. Berbagai upaya telah dilakukan IBI dengan melakukan kegiatan yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggota dalam pemberian pelayanan serta kelengkapan sarana sesuai standar.
Dengan kekuatan organisasi pada setiap jenjang kepengurusan, hampir setiap cabang IBI telah mempunyai kantor sekretariat tempat melakukan aktifitas yang merupakan center pembinaan anggota, bahkan juga tempat pelayanan milik organisasi sebagai tempat meningkatkan ketrampilan anggota melalui program magang dan sekaligus merupakan tempat usaha yang berbadan hukum dengan nama Yayasan Buah Delima.
Melalui kegiatan yayasan ini, IBI melengkapi kebutuhan para bidan baik berupa sarana pelayanan termasuk obat dan alat kontrasepsi maupun berupa dana untuk meningkatkan tempat pelayanan.
Di sela kesibukan menempuh pendidikan formal tingkat akademi yang merupakan standar minimal pendidikan bidan atau lebih atas lagi, para pengurus masih menyempatkan melakukan pembinaan di setiap tingkat kepengurusan.
Di tingkat provinsi diberikan kepada pengurus cabang dengan muatan kebijakan-kebijakan organisasi, pengembangan pengetahuan baru yang akan diteruskan kepada anggota di tingkat cabang dan ranting sebagai upaya pemberdayaan pengurus.
IBI Provinsi Jawa Timur, boleh berbangga hati karena pihak rektorat Universitas Airlangga bakal menyediakan peluang bagi bidan di Jatim untuk mengembangkan pengetahuan akademinya hingga jenjang S1 di kampus Unair. “Kemungkinan besar, bidan-bidan yang beruntung nanti akan mendapat korting SPP-nya dari Unair, “ cetus Prof Dr H Haryono Suyono Guru Besar Universitas Airlangga, saat berbicara dalam seminar Peningkatan Kualitas Bidan di kampus Unair dalam rangka memperingati 50 Tahun Unair, yang terselenggara atas kerjasama Ikatan Bidan Indonesia (IBI) provinsi Jawa Timur dengan Universitas Airlangga, Jawa Timur.
Ucapan Wakil Ketua I Yayasan Damandiri cukup beralasan, karena sebelumnya telah dilakukan pendekatan dengan banyak pihak, khususnya pihak rektorat. Dengan kata lain, Universitas Airlangga memang telah siap mengangkat para bidan se Jatim menjadi sarjana melalui program S1-nya. Seminar tersebut dihadiri Pembantu Rektor I Unair, Prof Dr Fasikhul Ihsan, Sukaemi Sukir, SPd, – Ketua IBI provinsi Jatim dan Prof Muhammad Amin – Direktur Program Pascasarjana Unair. Selain itu jajaran pengurus IBI se Jatim memenuhi auditorium Fakultas Kedokteran UNAIR.
Ketua IBI Jatim Sukaemi Sukir, Spd berkata selain mengupayakan para bidan yang tergabung dalam IBI memperoleh tingkat pendidikan memadai, IBI juga melakukan kegiatan berupa seminar pendidikan berkelanjutan, pelatihan-pelatihan berbasis kompetensi (menggunakan standar WHO) yang telah dan sedang dilaksanakan di 75 % cabang, bahkan ada 4 kabupaten yang 100 % bidannya telah dilatih APN. Untuk mempertahankan kinerja pelayanan sesuai standar, IBI pun mempunyai program Peer Review yang sedang dan telah dilaksanakan di cabang cabang.
Mengantisipasi penerapan sistem legislasi dan lisensi oleh pemerintah melalui proses penilaian dan pemantauan terhadap pelayanan bidan, maka IBI bekerjasama dengan STARH, BKKBN dan Dep.Kes telah memulai program peningkatan kualitas pelayanan yang sesuai dengan standar kesehatan WHO. Program ini dutujukan kepada semua bidan praktek swasta dan dinamakan Bidan Delima, suatu merk dagang yang punya standar sudah ditentukan dan mempunyai keunggulan, kekhususan berkualitas tinggi, mempunyai nilai tambah, lengkap dan memiliki hak paten.
Wakil Ketua I Yayasan Damandiri mengingatkan di era Otonomi Daerah, perlu dikembangkan strategi pemberdayaan yang mandiri untuk meningkatkan mutu keluarga, perempuan, anak-anak dan remaja di dalam proses pemberdayaan ibu sehat, keluarga sehat, keluarga yang beruntung, bekerja dan membangun.
“Strategi ini bukan sekedar wacana, tetapi pada perubahan tingkah laku,” tegas Prof Haryono seraya menambahkan, “strategi yang perlu kita segarkan kembali adalah komitmen yang tinggi melindungi ibu-ibu dan anak-anak pemegang masa depan bangsa. Targetnya adalah dengan mengukur makin tingginya mutu punduduk Indonesia atas dasar human development index.”
Pascasarjana Unair saat ini sedang menyiapkan suatu jaringan di sepuluh kota dan kabupaten sebagai payung proyek pertama, termasuk Surabaya, Malang dan sekitarnya. Untuk meningkatkan mutu dan jaminan para bidan ini akan dilakukan pertemuan sekitar dua atau tiga bulan sekali.
Diharapkan, akan ada kerjasama dengan bank pembangunan daerah agar para bidan dapat menjadi anggota dan penerima kartu bidan mandiri, sehingga para bidan mudah menerima kartu kredit dari bank Jawa Timur untuk menolong para akseptor yang mungkin tidak bisa membayar kontan harga obat suntikan. “Obat suntikan 3 bulan dipakai sekali kalau bayar 3 bulan hanya pada waktu disuntik itu mahal, bisa dicicil seminggu sekali atau sebulan sekali, “ saran Prof. Haryono Suyono didepan `peserta forum seminar yang saat itu hadir pula beberapa pengurus BPD Jatim.
Usulan lainnya, akan ada pelatihan bidan junior secara tersendiri. “Kalau dalam dua tahun sekali, bidan delima mengambil bidan senior, maka bidan junior akan kita latih juga. Sehingga ada semacam kerjasama yang erat, yang intinya adalah memberikan kesempatan sebanyak mungkin agar pasangan ibu yang ada dapat dibantu.
Oleh karena itu sejalan dengan penyediaan pelayanan yang disediakan Bank Jatim, Yayasan Damandiri menyediakan kontrasepsi mandiri. Dijadwalkan di setiap desa minimal ada 1 bidan mandiri.”
Seminar yang dihadiri 230 pengurus IBI se-Jawa Timur dan Badan Pusat statistik (BPS) dari 15 cabang ini diharapkan dapat menambah pengayaan dari kegiatan dan program yang telah ada, sehingga memperkuat kemandirian dalam langkah serta pemberian pelayanan kepada masyarakat.

DIKUTIP DARI : WWW.DAMANDIRI.OR.ID